![]()
Ditengah-tengah sesi Kegiatan kami sempatkan untuk berfoto dengan Dr. Dahlan Rais,MA
Hadir pada kegiatan tersebut tokoh-tokoh nasional diantaranya menteri pendidikan Muhajir Efendi, Dahlan Ra’is dan akademisi untuk memberikan pemikirannya. Salah satu pemikiran sekaligus menjadi agenda muktamar adalah gagasan yang diinginkan oleh LPP dan disampaikan oleh Dr Dahlan Ra’is tentang LPP menjadi Majelis Pesantren. Tetapi beliau berpesan bahwa keputusan tersebut mutlak ada di sidang pada kegiatan Muktamar yang akan diadakan di Solo.
Paparan pertama dari Pembina LPP Muhammadiyah menyampaikan bahwa muhammadiyah merupakan gerakan ilmu, pencerahan dan tajdid. Untuk membumikan muhammadiyah, tajdid yang dilakukan oleh muhammadiyah adalah dari konteks ke teks bukan dari teks ke konteks. Maksudnya, tajdid dilakukan oleh masyarakat. Begitulah KH Ahmad Dahlan dalam mengawali dakwahnya.
Beliau berpesan, kepada pejuang pesantren Muhammadiyah untuk Tashih niyataka qoblal amal, “Selalu perbaiki niatmu sebelum beramal”. Muhammadiyah berpihak kepada masa depan dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan menemukan kebenaran. Inilah thariqah muhammadiyah, jalan yang ditempuh oleh Muhammadiyah. Semakin berpengetahuan semakin takut kepada Alloh SWT. Semakin berpengetahuan semakin takarub kepada Alloh SWT.
Dakwah adalah kegiatan inti dari Persyarikatan Muhammadiyah. Muhammadiyah akan kehilangan ruhnya jika tidak ada kegiatan dakwah. Dakwah paling efektif dengan menunjukan perilaku akhlakul karimah. Pesantren Muhammadiyah menjadi harapan masa depan pendidikan nasional. Santri milenial harus memiliki kompetensi internasional, tertama dua bahasa, yaitu bahasa arab dan bahasa inggris.
Dr Dahlan Rais dalam paparannya menyampaikan bahwa bangsa Indonesia masih terkena inferiority complex karena faktor penjajahan sekian ratus tahun. Kondisi seperti ini harus segera diatasi. Oleh karena itu peran pendidikan, khususnya pesantren sangat potensial untuk menyembuhkan inferiority tersebut.
Beliu juga berpesan ilmu yang benar adalah ilmu yang berdasarkan wahyu. Inilah potensi dari pesantren muhammadiyah, yaitu mengintegrasikan wahyu dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana kejayaan Islam pada masa lalu, dimana ilmu pengetahuan lahir dari para ulama-ulama yang didasarkan pada ilmu tauhid dan ilmu umumnya bersumber dari wahyu Alloh SWT.
Pada rakornas ke empat tahun 2019 dihadiri oleh 324 pesantren muhammadiyah dari seluruh tanah air. Rakornas ke V menurut LPP akan diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang. (Slk)