• 085291991766 TU
  • info@smamuh4bara.sch.id
  • Jl. Raya Kalibening No. 75 Kec. Kalibening, Kab. Banjarnegara

Hubungi Kami(+62) 813 9107 7011 KS

Alamat SekolahJl. Raya Kalibening No. 75 Kec. Kalibening, Kab. Banjarnegara

Kuduran Budaya Wanayasa Meriah, Bentang Ondol 1.000 Meter Jadi Daya Tarik Ribuan Warga

Loading

Dokumentasi Kegiatan Bentan Ondol 1.000 Meter di Wanayasa Kabupaten Banjarnegara

Wanayasa, Banjarnegara — Suasana Desa Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara kembali meriah dengan gelaran Kuduran Budaya pada Minggu, 27 September 2026. Acara tahunan dalam rangka memperingati ulang tahun Desa Wanayasa ini menghadirkan tradisi unik berupa bentang ondol sepanjang 1.000 meter yang berhasil menyedot perhatian ribuan warga dan pengunjung dari berbagai daerah.

Sejak pagi hari, kawasan desa telah dipadati oleh masyarakat yang ingin menyaksikan langsung prosesi budaya tersebut. Antusiasme warga terlihat jelas sejak persiapan dimulai, mulai dari penataan lokasi hingga momen pembentangan ondol yang menjadi ikon utama Kuduran Budaya. Tidak hanya warga setempat, sejumlah pengunjung dari luar kota juga tampak hadir untuk menyaksikan keunikan tradisi ini.

 Gotong Royong, Kunci Sukses Kuduran Budaya

Pembentangan ondol sepanjang satu kilometer tentu bukan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh satu atau dua orang. Semangat gotong royong menjadi bagian utama dalam pelaksanaan Kuduran Budaya. Kegiatan ini melibatkan warga, Pemerintah Desa Wanayasa, Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, sekolah setempat, hingga kelompok ibu-ibu Nasyiatul Aisyiyah. Semangat “dari warga untuk warga” menjadi kekuatan dalam mempertahankan tradisi tersebut.

Kolaborasi lintas elemen ini menunjukkan bahwa Kuduran Budaya bukan sekadar acara seremonial, melainkan wujud nyata kebersamaan masyarakat Desa Wanayasa. Setiap pihak memiliki peran masing-masing, mulai dari penyediaan bahan, proses pembuatan, hingga pengaturan jalannya acara. Hal inilah yang membuat tradisi ini tetap bertahan dari tahun ke tahun.

Ondol, Kuliner Khas Berbahan Singkong

Ondol merupakan makanan khas berbahan dasar singkong yang dibumbui bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan penyedap. Pembuatannya dilakukan oleh ibu-ibu setempat yang telah terlibat selama kurang lebih 16 tahun. Untuk membuat bentangan sepanjang satu kilometer, dibutuhkan sekitar 1 ton singkong.

Proses pembuatan ondol sendiri memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Singkong harus dikupas, diparut, lalu dicampur dengan bumbu-bumbu pilihan sebelum akhirnya dikukus atau digoreng. Bagi ibu-ibu Desa Wanayasa, kegiatan ini bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan berbagi pengalaman antar generasi. Ibu-ibu yang lebih senior dengan sabar mengajarkan cara membuat ondol kepada generasi muda, sehingga resep dan teknik pembuatannya tetap lestari.

Rangkaian Acara yang Semarak

Selain bentang ondol, Kuduran Budaya juga dimeriahkan dengan senam, lari pagi, pelepasan lampion, dan tarian pembuka. Puncak acara ditandai dengan prosesi perebutan ondol yang menarik perhatian ribuan warga dan pengunjung.

Rangkaian acara dimulai sejak pagi dengan senam bersama yang diikuti oleh warga dari berbagai usia. Kegiatan ini menjadi ajang kebugaran sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Setelah itu, lari pagi mengelilingi desa turut menambah semarak suasana. Menjelang sore, tarian pembuka ditampilkan oleh siswa-siswi sekolah setempat, menambah nuansa budaya yang kental.

 

Saat malam tiba, pelepasan lampion menjadi momen yang paling dinanti. Langit Desa Wanayasa dipenuhi cahaya lampion yang dilepaskan secara bersama-sama, menciptakan pemandangan yang indah dan penuh makna. Puncaknya, prosesi perebutan ondol menjadi atraksi utama yang membuat suasana semakin meriah. Warga dan pengunjung tampak bersemangat menyaksikan momen tersebut.

Harapan untuk Generasi Muda

Melalui acara Kuduran Budaya, tradisi bentang dan rebut ondol diharapkan dapat terus dikenal dan diwariskan kepada generasi muda. Selain menjaga kelestarian budaya lokal, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendukung UMKM lokal dan mempererat kebersamaan masyarakat Wanayasa.

Kuduran Budaya merupakan warisan budaya yang harus dijaga bersama. Ia berharap, semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam acara ini, sehingga tradisi bentang ondol tidak punah ditelan zaman. Selain itu, acara ini juga diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan perekonomian warga melalui sektor UMKM dan pariwisata.

Dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya lokal, Kuduran Budaya Desa Wanayasa menjadi bukti nyata bahwa tradisi dapat terus hidup di tengah masyarakat modern. Acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga wujud identitas dan kebanggaan masyarakat Wanayasa yang patut diapresiasi.

Jurnalistik Gritif Vol.9 SMA Muhammadiyah 4 Banjarnegara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *