![]()

Panggung budaya Kirab 1000 tenong desa Sirukun
Suasana Desa Sirukun, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, pagi itu tampak semarak dan penuh warna. Jalan desa dipadati ratusan warga yang mengenakan pakaian adat, mengiringi iring-iringan tenong (anyaman bambu berisi hasil bumi) diiringi alunan gamelan dan drumband. Inilah puncak acara Ruwat Bumi dan Kirab 1000 Tenong, tradisi turun-temurun warga Sirukun sebagai bentuk syukur atas melimpahnya hasil panen dan harmoni dengan alam.
Acara yang digelar selama empat hari (11–14 Mei 2025) ini diawali dengan berbagai rangkaian kegiatan budaya. Puncaknya, ribuan warga berpartisipasi dalam kirab membawa lebih dari 1.000 tenong berisi padi, jagung, ubi, buah, serta jajanan tradisional. Semua disiapkan secara swadaya, mencerminkan kegotongroyongan yang masih kental di Sirukun.
Kepala Desa Sirukun, Bapak Karpi, menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni. “Ini adalah pendidikan budaya dan spiritual bagi generasi muda. Lewat tenong, kami junjung nilai kesederhanaan, syukur, dan penghormatan pada alam,” ujarnya. Ia juga menyebut acara ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah, termasuk kehadiran Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah serta Bupati Banjarnegara.
Usai kirab, digelar prosesi ruwat bumi di lapangan desa yang dihiasi janur. Dipimpin sesepuh desa, ritual ini memanjatkan doa agar desa Sirukun dijauhkan dari bencana dan diberi keberkahan panen. Acara ditutup dengan makan bersama, di mana seluruh isi tenong dibagi kepada warga dan pengunjung.
Tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata. Banyak pengunjung dari desa lain datang untuk menyaksikan bahkan mengabadikan momen kebersamaan ini. Bapak Karpi berharap tradisi ini tetap lestari sebagai pemersatu masyarakat. “Apapun agama dan sukunya, budaya ini harus terus hidup demi menjaga persatuan NKRI,” tegasnya.
Dengan semangat budaya, Kirab 1000 Tenong tak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga simbol kearifan lokal yang mengakar kuat di Desa Sirukun.
Liputan : Tim Jurnalis Gritif, Penulis : Malika Meski Faradisha, Editor : Nurlatif Fatmawati