![]()
LEARNING WITHOUT SCHOOLS
Solikhin
Bertinggal di Dataran tinggi Dieng
Covid-19 seakan mengubah tiap negara yang terdampak. Terutama aktivitas ekonomi. Hampir semua kegiatan ekonomi sudah mandek, atau berjalan sangat lambat. Seorang pedagang pasar mengeluh dagangannya sepi. Pabrik pabrik sudah mulai tutup, para pekerjaan tidak dapat bekerja , mereka berusaha pulang kampung. Jika ditelisik lebih dalam, kehidupan grassroot sangat memperihatinkan.
Dunia pendidikan tak kalag jauh, apalagi yang pertama terdampak. Sekolah ditutup, mengubah mode dari clasical ke online atau daring. Anak anak diberikan tugas dan materi oleh guru. Satu dua hari terasa asik. Seminggu dua minggu, anak mulai jenuh dan menanyakan ke bapak ibu gurunya , kapan kami bisa berangkat sekolah.
Ada yang nge-tweet Guru tidak mengajar, makan gaji buta, mereka yang nge-tweet tidak memahami bahwa guru juga bekerja melalui work from home sesuai instruksi pemerintah. Seminggu dua minggu, menjadi guru tatap muka ternyata lebih efektif daripada daring. Semua karena darurat covid-19.
Hikmah di situasi lockdown yang saya ambil adalah betapa pentingnya sekolah dan keberadaan sekolah. Sejak sekolah tidak melayani mode klasikal, Orang tua mulai kerepotan mendampingi anak anaknya. Berikutnya, sekolah bukan sekedar tempat untuk mentransfer pengetahuan. Sekolah lebih tepat sebagai tempat untuk perubahan semua warga sekolah. Jika tidak ada perubahan maka tidak disebut bersekolah.
Sementara saya disamping mendampingi keenam anak saya dirumah, saya merenungkan tentang learning without schools . Belajar tanpa sekolah itu sangat sulit. Tinggal bagaimana seseorang mendefinisikan belajar.
Kalibening, 26 Maret 2020